kepada Allah, yang berdiri tegak di atas telapak kakinya dengan cucuran air mata, dan segolongan kaum yang menyesali dosa- selalu memaafkan dan tidak membalas dendam. Bila dihina, beliau Maka biarkan, jangan kau tarik tali kekang atau menggiringnya, karena kerinduan pada sang nabilah yang menariknya. INFAQMULTIMEDIASalurkan Infaq Terbaik Anda, Melalui :BCA 2010357660a/n Abdul Qodir Ba'abudيالله بالتوفيق حتي نفيق ونلحق الفريق"Mudah-mudahan kita mendapat t Indahnyadunia ini bila kita berjuang kerana agama Allah. Bersama para mujahid menegakkan keadilan dan menjadikan bumi ini sejahtera. Umi teringat kisah al-Khansa, keempat-empat anaknya disuruhnya berjihad,beliau gembira dengan apabila anaknya syahid, akan ditarik orang-orang yang paling dekat dengan masuk ke syurga. GusBaha - Biarkan Allah SWT Yang Mengatur Hidup Kita@Ngaos Gus Baha #gusbaha #gusbahaterbaru #pengajiangusbaha #ngaosgusbaha #ngajidiriK.H. Ahmad Bahauddin Karenamembalas keburukan orang lain dengan keburukan juga, sama artinya anda melakukan hal yang sama buruknya dengan mereka. Biarkan saja waktu yang menjawabnya. 6. Ridho dan Ikhlas Menerima Kedzaliman (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang yang bersaudara; dan Sebuah buku yang bisa membuat kita tersadar untuk menghargai diri sendiri. Biarkan semesta atau Allah yang akan membalas orang yang telah berbuat jahat pada kita. Karena setiap kejahatan akan mendapatkan balasan dari-Nya. Jadi, tak perlu kita sibuk dan repot membalas kejahatan dengan kejahatan serupa. Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS. Dokter Andani Eka Putra menjadi sosok penting dalam beberapa tahun terakhir di dunia kesehatan di Indonesia. Betapa tidak, dedikasi dan kerja tanpa kenal waktunya dalam memimpin Laboratorium Pusat Diagnostik dan Riset Penyakit Infeksi di Fakultas Kedokteran Universitas Andalas (FK Unand), memberikan sumbangsih besar dalam penanganan Covid-19 di Indonesia. Muslim "Barangsiapa memaafkan saat ia mampu membalas maka Allah akan memberinya maaf pada haris kesulitan" (HR. Ath-Thabrani) "Tidak ada yang menolak takdir kecuali doa. Dan tidak ada yang dapat menambah umur kecuali kebaikan" (HR. At-Tirmidzi) "Kejujuran adalah ketentraman, dan kebohongan adalah kebimbangan" (HR. Allahmembalas olok-olokan mereka dengan menimpakan kehinaan atas mereka dan Allah membiarkan mereka bergelimang terus dalam kesesatan, dan mereka kelak akan diazab pada hari Kiamat. (Al-Qur'an), dan Kami biarkan mereka bingung dalam kesesatan. yang terpancang (ayat 282). Surat ini dinamai Al Baqarah karena di dalamnya disebutkan kisah Bumiini terasa sempit bagi wali-wali Allah, orang-orang yang beriman, saat mereka ketinggalan shalat shubuh berjamaah. Bumi ini terasa sempit buat mereka saat tidak mengisi di shaf-shaf awal. Bumi ini terasa sempit ketika tidak khusyu' dalam shalatnya. Bumi ini terasa sempit ketika bersujud, namun setan menjauhkannya dari mengingat Allah. uYgY. Jika seseorang berbuat jahat terhadap kamu, janganlah balas dia dengan kejahatan. Berusahalah untuk melakukan apa yang dianggap baik oleh semua orang. Dengan sedaya upaya, berusahalah untuk hidup damai dengan semua orang. Saudara-saudaraku! Jangan sekali-kali balas dendam; biarlah Allah yang membalas dendam. Di dalam Alkitab tertulis, “Aku akan membalas kejahatan mereka. Aku akan menghukum mereka, firman Tuhan.” Janganlah balas dendam, tetapi lakukanlah apa yang tertulis di dalam Alkitab, “Jika musuhmu lapar, berilah dia makan; jika dia dahaga, berilah dia minuman. Kerana dengan berbuat demikian, kamu akan membuat dia malu.” Janganlah biarkan diri kamu dikalahkan oleh kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan. Rasulullah saw pernah bersabda, “Barang siapa menghilangkan kesulitan dari seorang muslim dari kesulitan-kesulitan dunia, maka Allah akan menghilangkan darinya kesulitan-kesulitan pada hari kiamat. Allah akan selalu menolong seseorang selama ia menolong orang lain.” HR. Muslim, Ahmad, Tirmidzi. Saudaraku, setiap kebaikan yang kita lakukan, sekecil apa pun itu, pasti Allah SWT melihatnya. Pasti Allah memperhatikannya, dan Allah Maha Mengetahui setiap rahasia, bahkan yang tersembunyi di lubuk hati sekali pun. Tidak perlu risau atas tenaga yang sudah kita keluarkan demi memberi manfaat bagi orang lain. Tidak usah resah atas lelahnya pengorbanan yang sudah kita berikan. Tidak perlu juga memikirkan ucapan terima kasih atau penghargaan dari makhluk. Apalah artinya penghargaan makhluk, sertifikat-sertifikat, piala, piagam, plakat dan lain sebagainya itu jika dibandingkan dengan penghargaan Allah? Segala penghargaan manusia itu hanya berumur singkat saja. Kemudian, semua benda itu hanya memenuhi lemari atau rak di rumah kita. Berdebu, rusak, atau patah. Bahkan, boleh jadi akan ada suatu saat sebagian dari benda itu dibuang karena usang dimakan usia. Sedangkan penghargaan Allah jauh lebih agung dan mulia. Berlipat ganda hingga tak terkira, sebagai balasan amal kebaikan yang kita lakukan. Allah SWT berfirman, “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” QS. Qaf [50] 16. Saudaraku, Allah itu Mahadekat. Namun, bisa ada yang menghalangi kita dari kedekatan dengan-Nya. Salah satu sebab penghalang itu adalah kita sangat sibuk dengan penilaian orang lain daripada penilaian Allah. Ketika ngobrol, kita lebih sibuk mengatur intonasi, gaya, pilihan kata-kata, dengan tujuan agar lawan bicara kita tertarik dan mengagumi kita. Kita beli pakaian, kendaraan, berbagai aksesori, hanya demi dinilai bagus oleh orang lain. Sikap seperti ini akan menodai hati, menghilangkan keikhlasan. Orang yang sibuknya hanya dengan penilaian manusia, ia cenderung munafik, sibuk membagus-baguskan topeng dan lupa untuk membaguskan isinya. Padahal seharusnya, kita lebih sibuk membagus-baguskan hati di hadapan penilaian Allah. Mungkin ucapan yang terlontar dari mulutnya sederhana, tapi karena tanpa dicampuri dusta, sombong, riya’, sum’ah, maka Allah membuatnya bertenaga dan menginspirasi. Tapi, bukan berarti kita tidak perlu peduli pada penilaian manusia. Berpakaianlah dengan rapi dan wajar, bertuturkatalah dengan sopan dan tidak berlebihan. Tanya di dalam hati, apakah Allah suka pada sikap dan ucapan kita? Kita berpenampilan baik dan rapi saat berhadapan dengan orang lain adalah untuk menghormatinya, bukan untuk dipuji olehnya. Mengejar penilaian orang lain membuat hati kita tidak tenang, jauh dari kebahagiaan. Lelah karena penilaian orang pasti beragam, tergantung dari selera mereka. Dan, yang lebih mendasar adalah karena ketika kita hanya mengharap penilaian makhluk, sesungguhnya Allah mengetahuinya. Kita tidak mencari apa yang Allah sukai. Kita hanya mencari penilaian orang, dan ini tanda tidak ikhlas. Ketidakikhlasan membuat kita menjauh dari Allah SWT. Inilah sikap yang tanpa disadari menjadi penghalang bagi kita untuk dekat dengan Allah. Ketika membantu orang lain, mungkin kita berniat ingin mendapat perhatiannya, penilaiannya, dan bisa “mencuri” hatinya. Boleh jadi maksud kita itu berhasil. Tetapi, bagaimana dengan Allah? Apakah Allah rida dengan apa yang kita lakukan? Mungkin kita bisa menjadi dekat dengan manusia, tapi bagaimana dengan Allah, apakah kita makin dekat dengan-Nya ataukah malah semakin menjauh?! Tidak perlu berhitung-hitung untung rugi dalam membantu saudara kita. Kalau kita bisa bantu, bantu saja. Jangan sibuk dengan pikiran kita dapat apa, karena pikiran-pikiran seperti itulah yang mengancurkan nilai dari amal kita menjadi sia-sia. Sehebat apa pun amal baik kita. Orang yang rugi adalah orang yang datang di hadapannya kesempatan untuk berbuat kebaikan, namun ia membiarkannya lewat begitu saja tanpa antusias meraihnya karena sibuk memikirkan untung rugi duniawi. Padahal, belum tentu kesempatan seperti itu datang lagi. Dan, belum tentu juga umurnya akan sampai pada perjumpaan dengan kesempatan berbuat baik yang berikutnya. Maka, beruntunglah orang yang senantiasa bersegera mengambil kesempatan berbuat kebaikan, membantu tetangga yang kesulitan, memungut sampah dan memindahkannya kepada tempat yang semestinya, mengisi kotak amal yang lewat di hadapannya, dan berbagai kebaikan lainnya dengan niat agar Allah rida kepadanya. Semoga kita termasuk orang-orang yang beruntung ini. Aamiin. KH. Abdullah Gymnastiar